Adopsi NEV di Indonesia Meningkat, Tantangan Infrastruktur Masih Besar
Autocorner.id – Minat masyarakat terhadap adopsi NEV (New Energy Vehicles) di Indonesia terus menunjukkan tren positif. Laporan 2026 Global Automotive Consumer Study: Southeast Asia Perspectives dari Deloitte mencatat ketertarikan konsumen terhadap kendaraan hybrid dan listrik telah mencapai 42 persen, menempatkan Indonesia di posisi ketiga di Asia Tenggara setelah Thailand dan Singapura.
Meski demikian, kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) masih menjadi pilihan utama dengan porsi 55 persen. Kekhawatiran terhadap akses pengisian daya, biaya, serta kesiapan infrastruktur menjadi alasan utama konsumen belum beralih ke kendaraan elektrifikasi.
Laporan yang melibatkan 6.013 responden di enam negara Asia Tenggara, termasuk lebih dari 1.000 responden di Indonesia, juga menunjukkan Indonesia mencatat penurunan preferensi terhadap kendaraan ICE sebesar tujuh poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadi penurunan terbesar di kawasan.
Baca juga: Honda Super-ONE Debut di GIIAS 2026, Opsi Baru EV di Indonesia
Biaya dan Infrastruktur Jadi Tantangan Untuk Pertumbuhan Adopsi NEV

Survei Deloitte mengungkap biaya bahan bakar yang lebih rendah (53 persen), kecepatan pengisian daya (50 persen), pengalaman berkendara (48 persen), serta ketersediaan stasiun pengisian daya (47 persen) menjadi faktor utama yang mendorong minat terhadap NEV.
Namun, keterbatasan infrastruktur masih menjadi kendala. Sebanyak 90 persen responden menyebut biaya sebagai pertimbangan utama saat memilih lokasi pengisian daya umum. Sementara itu, hanya 54 persen calon pengguna NEV yang memiliki akses pengisian daya di rumah, sedangkan 34 persen belum memiliki fasilitas tersebut.
“Minat terhadap NEV di Indonesia tumbuh secara signifikan, dan penurunan preferensi terhadap kendaraan konvensional (ICE) yang paling tajam di kawasan ini menandakan bahwa sudut pandang konsumen sedang bergerak ke arah yang tepat. Rencana pemerintah untuk memperkenalkan insentif kendaraan listrik merupakan langkah yang sangat baik dan tepat waktu — data kami menunjukkan bahwa biaya adalah faktor paling sensitif bagi konsumen Indonesia dalam membeli kendaraan,” ujar Lee Seong Jin, Automotive Sector Leader, Deloitte Asia Tenggara.
Oleh karena itu, tambah Seong Jin, kebijakan yang langsung menyasar keterjangkauan harga memiliki potensi nyata untuk mempercepat konversi dari sekadar minat menjadi adopsi. Meski demikian, insentif saja tidak akan cukup untuk menutup celah tersebut.
“Para pengendara masih menanyakan hal-hal praktis mengenai tempat pengisian daya dan ketersediaan infrastrukturnya saat dibutuhkan—dan pertanyaan-pertanyaan ini memerlukan solusi tingkat ekosistem yang melampaui sekadar urusan harga,” jelasnya.
Baca juga: Mobil HEV Pertama Mitsubishi Siap Meluncur Pekan Ini
Konsumen Makin Digital, Loyalitas Merek Menurun

Selain meningkatnya minat terhadap elektrifikasi, konsumen Indonesia juga termasuk yang paling antusias terhadap kendaraan berbasis perangkat lunak (software-defined vehicle/SDV). Sebanyak 81 persen responden menilai teknologi tersebut bermanfaat, sementara 78 persen tertarik menggunakan fitur personalisasi berbasis AI.
Di sisi lain, pasar otomotif Indonesia semakin kompetitif. Sebanyak 69 persen responden mengaku berencana berpindah merek saat membeli kendaraan berikutnya, sedangkan 41 persen telah berganti merek pada kendaraan yang digunakan saat ini.
Untuk mengetahui informasi terkini seputar dunia otomotif di Indonesia, jangan lupa untuk follow akun sosial media resmi Autocorner Indonesia.